Jumat, 29 Agustus 2008

Demokrasi Ayah dan IbuKU

Kalaulah ada Rakyat disebuah rumah tangga pastilah aku rakyatnya "suatu hari kata murid padaku" Aku sempat terdiam mendengarnya kemudian dia katakan lagi " padahal rakyatkan paling berkuasa menurut bapak"mengutif penjelasanku didepan kelasnya.

Dengan senyum aku menanyakan padanya ada apa dirumahmu dengan demokrasi.

Dengan suara agak keras dia katakan "maaf pa ini bukan hanya soal demokrasi dirumah saya saja tapi disemua rumah kami bahkan disemua rumah anak Indonesia.

Saya ingin pandangan lebih jelas saya minta dia maju untuk menyampaikan maksudnya agar semua mendengar apa yang dia pikirkan.

Ternyata dia menggugat sebuah sistem demokrasi di Rumahnya
Menurutnya demokrasi dirumah tidak berjalan sebagaimana teori yang dia dapatkan disekolah sebagai misal :
1. Orang tua tidak pernah mengajak anak untuk membicarakan rencana kedepan sebuah rumah tangga apakah soal kredit jangka panjang, , renopasi menentukan cat rumah, apalagi soal yang sipatnya bisnis orang tua, anak tidak pernah diajak bercerita apalagi diminta tanggapannya, padahal kalau terjadi apa-apa para anak-anak juga menerima imbasnya


2.Masih banyak orang tua yang menganggap anaknya hanya sebagai pelengkap rumah tangga saja, "yang hampir tidak ada bedanya dengan perabot rumah"
kan g pernah diajak berunding.

3.Pengambil keputusan di rumah adalah ayah ama ibu anak-anak ga ikut ambil keputusan, tapi akibatnya pasti ikut, sukur-sukur berdampak baik kalau buruk anaklah yang paling merasakan dampak dari keputusan tadi

4. Bersambung lho... ada yang mau nambahin

3 komentar:

ciie lallo mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
dini ainudiva mengatakan...

wah, kasian bgtt tuh anak Pakk ..

di Indonesia memang sebagian besar, yg tua yg spertiny "menguasai". Kayakny yang tua yang paling benar .

Berdasarkan cerita di atas, menurut saya tindakan ortu itu SALAH . Harusny mereka memberi hak pada anak untuk berpendapat . Karena anak" jaman sekarang banyak yang mempunyai ide" cemerlang .
Jadi jangan menganggap remeh anak" masa kini.

Tetapi, benar yang di katakan galuh di bawah ini, si anak juga salah karena tidak menuntut haknya berpendapat .

Kalau di rumahku, ortu selalu mengijinkanku berpendapat . ortu juga selalu minta pendapatku dulu sebelum memutuskan . Jadi sistem demokrasi ttp brlangsung di rumah saya . :D

Itu kisah nyata ya Paakk ?

Vhebie fuLL LeMak mengatakan...

Critanya perjuangan seorang anak ntuk dpt hak berbicara di rumah ya pa'?!
Ortu biasanya suka berunding tanpa ngasi kesempatan pada anak. kemungkinan yang salah tuh dua-duanya, ya nggak bisa dibilang salah sih karena kodratnya memang kayak gitu kan, ortu suka menganggap dirinya benar dan anak juga bersikap cerewet dan pengin dimengerti. Wajar.!
Ortu pasti punya banyak alasan ntuk nggak mengikut campurkan si anak ke dalam pembicaraan mereka. diantara beberapa alasan, Q mikir ini yang paling cocok ma Q, kadang ortu nganggep omongan anak tuh ngaco semua dan apa ya..ribet gitulah jadi males dengernya padahal si anak ngomong dengan karakternya sendiri yg memang kalau ngomong ribet kayak Q.
Si anak juga trlalu mau ikut campur urusan yang 'misalnya'bukan urusan mereka. Itu yang membuat ortu nggak mau ngajak diskusi atau lebih sering diskusi umpet-umpetan. mungkin itu juga jawaban kenapa anak remaja jaman sekarang hubungan kekeluargaannya renggang karena ortu nggak mau perhatiin qta!
Wah jadi semangat 45, maaf loh pak kalau misalnya menyinggung!
~^VB^~